new header ads

Saturday, July 30, 2016

Bagaimana Cara Mengelola Logistik Dalam Perusahaan?


Aktivitas kerja di perusahaan mempunyai korelasi tinggi dengan peralatan dan perlengkapan yang dapat menunjang proses pelaksanaan aktivitas kerja di perusahaan tersebut. Untuk itu agar peralatan dan perlengkapan dapat berdaya guna total, maka harus dikelola secara detail dan komprehensif, dimana harus dipertimbangkan secara rinci mulai dari perencanaan dan penganggaran dana hingga proses pengendaliannya.
Penanganan manajemen logistik yang baik akan bermuara pada terbentuknya keunggulan kompetitif perusahaan. Sumber dari keunggulan kompetitif tersebut terletak pertama-tama pada kemampuan perusahaan membedakan dirinya sendiri di depan mata konsumen dari para pesaingnya (value advantage). Kedua, dengan cara bekerja berbiaya rendah yang berarti memperoleh laba yang lebih tinggi (productivity atau cost advantage).


Productivity Advantage
Biasanya makin besar volum produksi suatu barang, biaya per satuan barang akan makin kecil karena fixed cost dibagi lebih merata dengan angka pembagi yang lebih besar. Sedangkan variable cost per satuan barang akan tetap, sehingga total cost per satuan barang akan mengecil. Oleh karena itu, kenaikan market share akan menaikkan volume produksi dan selanjutnya akan menurunkan biaya produksi per satu satuan barang. Namun, cara menurunkan biaya produksi tidak hanya dengan menaikkan market share, tetapi dapat juga dengan menurunkan biaya logistik.
Value Advantage
Sudah menjadi semacam axioma dalam marketing management bahwa konsumen tidak membeli “barang” (product) tetapi mereka membeli “faedah atau keuntungan tertentu” (benefit). Oleh karena itu, bila perusahaan tidak mampu membedakan produknya dengan produk kompetitornya, maka barang atau produknya akan menjadi “barang komoditas” biasa dan konsumen akan cenderung membeli jenis barang tersebut yang harganya paling murah. Untuk mendapatkan value advantage ini, maka perusahaan harus menciptakan nilai tertentu dan biasanya harus dilakukan pada suatu segmen pasar tertentu.
 

Fungsi Manajemen Logistik
Logistik merupakan suatu sistem yang terdiri atas beberapa rangkaian fungsi yang saling terkait, fungsi-fungsi tersebut yakni:
1. Fungsi Perencanaan dan Penentuan Kebutuhan
2. Fungsi Penganggaran
3. Fungsi Pengadaan
4. Fungsi Penyimpanan dan Penyaluran
5. Fungsi Pemeliharaan
6. Fungsi Penghapusan
7. Fungsi Pengendalian
 

Ruang Lingkup Manajemen Logistik Dalam Perusahaan
1. Peran manajemen logistik dan Pergudangan dalam kehidupan Perusahaan
- Evolusi sistem manajemen logistik
- Siklus manajemen logistik
- Pergudangan sebagai Subsistem dalam sistem logistik
- Objektif Manajemen logistik dan Pergudangan
- Fungsi fungsi manajemen logistik dan pergudangan
- Fungsi Pelayanan Sistem logistik dan Pergudangan
- Aktivitas gudang
- Struktur Pergudangan
- Pemilihan Lokasi Gudang
 

2. Pemeriksaan/Pengujian Barang
- Dasar Pemeriksaan Barang
- Destructive dan Non destructive test
- Kriteria Pemeriksaan total dan sampling
- Penentuan ukuran sample
- Penentuan Acceptance Level
- Pembuatan Berita Acara Pemeriksaan Barang
 

3. Administrasi Penerimaan Barang
- Prasyarat penerimaan barang
- Pembentukan team penerimaan barang
- Kriteria penerimaan barang
- Sistem dan Prosedur Penerimaan Barang
- Dokumen penerimaan barang
- Berita Acara Penerimaan Sementara
- Berita Acara Penerimaan Barang
- Penyusunan laporan transaksi barang
- Rekomendasi pembayaran
 

4. Administrasi dan Teknik Penyimpanan Barang
- Sistem dan Prosedur Penyimpanan Barang
- Dokumen yang digunakan untuk penyimpanan barang
- Tatacara Pengisian Kartu Barang
- Tatacara Pengisian Kartu Administrasi Persediaan
- Tatacara perhitungan nilai persediaan barang
 

5. Teknik Penyimpanan Barang Berukuran Kecil
• Aktivfitas unloading barang ukuran kecil
• Pengendalian kualitas dan kuantitas
• Packaging
• Identifikasi produk
• Teknik penyimpanan dan pelayanan pelanggan
• Pengendalian persediaan
• Authomatic identification method
 

6. Pengelolaan barang yang disimpan menggunakan karton (full-case)
• Manfaat penyimpanan barang menggunakan karton
• Order-pick methods
• Teknik pengaturan penyimpanan menggunakan karton
• Identifikasi posisi karton dan pallet
 

7. Akuntansi Persediaan
- Peran akuntansi dalam pengelolaan persediaan
- Kontrol intern dilihat dari segi organisasi serta sistem dan prosedur administrasi pergudangan
- Perhitungan biaya material dengan metoda FIFO (First in First Out), LIFO (Last in First Out), dan AVERAGE.
- Laporan persediaan yang diperlukan akuntansi
 

8. Laporan Sistem Pergudangan
- Laporan status persediaan
- Laporan Transaksi Barang
- Klasifikasi Barang
- Statistik Pemakaian Barang
- Laporan Perhitungan Inventory Control
 

9. Manajemen Pergudangan dan distribusi
• Konsep dasar Distribution Requirement Planning (DRP)
• Multi – echelon distribution system
• Pull system
• Push system
• Illustrasi order – point system
• Solusi order point
• Base – stock system
• Illustrasi perhitungan DRP
• Studi kasus DRP dengan menggunakan Software.
 

10. Inventory Control Techniques
- Klasifikasi persediaan
- Biaya persediaan
- Sistem pengendalian persediaan
- Economic order quantity; Reorder point dan Safety Stock untuk Independent material
- Fixed order period inventory system
- Latihan perhitungan optimasi persediaan
 

11. Inventarisasi dan auditing persediaan
- Manfaat inventarisasi persediaan
- Teknik inventarisasi persediaan
- Inventarisasi total dan inventarisasi sebagian
- Laporan Hasil inventaris


disadur dari :

 http://akuntansi.nscpolteksby.ac.id/2013/05/bagaimana-cara-mengelola-logistik-dalam.html

Monday, June 13, 2016

INCOTERMS 2016

Incoterm 2010, pasti udah pada tau kan.. Incoterm 2016 (yang paling update) , gak beda jauh




Rules for international trade by any mode of transport defined by Incoterms® 2016
EXW – Ex Works (named place)
Penjual membuat barang yang tersedia di tempat yang dijanjikan. Istilah ini menempatkan kewajiban maksimum pada pembeli dan kewajiban minimum pada penjual. Istilah ExWorks sering digunakan ketika membuat quotation / penawaran awal untuk penjualan barang tanpa biaya apapun, termasuk. EXW berarti bahwa penjual memiliki barang siap untuk koleksi di nya tempat (karya seni, pabrik, gudang) pada tanggal yang disepakati. pembeli membayar semua biaya transportasi dan juga menanggung risiko untuk membawa barang ke tujuan akhir mereka. penjual tidak memuat barang pada kendaraan untuk ekspor. Jika penjual tidak memuat barang, maka ia melakukannya atas resiko dan biaya pembeli. Jika pihak ingin penjual untuk bertanggung jawab atas pemuatan barang pada keberangkatan dan menanggung risiko dan semua biaya pembebanan tersebut, ini harus diperjelas dengan menambahkan kata-kata eksplisit dalam kontrak penjualan.

FCA – Free Carrier (named place)
Penjual menyerahkan barang packing untuk ekspor, kepada first party (Forwarder) di tempat yang ditentukan. Penjual membayar untuk transport ke titik pengiriman yang ditentukan, dan risiko ditanggung oleh pembeli sampai titik ini.

CPT – Carriage Paid To (named place of destination)
Penjual membayar untuk Freight (Air or Sea Freight). transfer risiko dari penjual kepada pembeli setelah menyerahkan barang ke Jasa Angkutan / forwarder.

CIP – Carriage and Insurance Paid to (named place of destination)
Transportasi / multimoda setara CIF. atau Door to Port, Penjual membayar untuk pengangkutan dan asuransi dan truking sampai ke port tujuan, risiko dipihak seller sampai saat barang diserahkan kepada first party di tambah dengan POD Charge di tanggung oleh penjual

DAT – Delivered at Terminal (named terminal at port or place of destination)
Penjual membayar untuk transport ke terminal, kecuali untuk biaya yang berkaitan dengan impor clearance, dan menanggung semua risiko sampai barang dibongkar di terminal.

DAP – Delivered at Place (named place of destination)
Penjual membayar untuk pengangkutan ke tempat yang dituju, kecuali untuk biaya yang berkaitan dengan impor clearance, dan menanggung semua risiko sebelum ke titik dimana barang siap untuk dibongkar oleh pembeli.

DDP – Delivered Duty Paid (named place of destination)
Penjual bertanggung jawab untuk pengiriman barang ke tempat yang yang dituju di negara pembeli, dan membayar semua biaya dalam membawa barang ke tujuan termasuk bea impor dan pajak. Istilah ini menempatkan kewajiban maksimum pada penjual dan kewajiban minimum pada pembeli.
Rules for international trade conducted entirely by water defined by Incoterms® 2010

FAS – Free Alongside Ship (named port of shipment)
Penjual harus menempatkan barang di samping kapal di pelabuhan bernama. penjual harus jelas barang untuk ekspor. Hanya cocok untuk transportasi laut tetapi tidak untuk transportasi laut multimodal dalam wadah [konsol shipment] (lihat Incoterms 2010, ICC publikasi 715). Istilah ini biasanya digunakan untuk angkat berat atau kargo curah. 

FOB – Free On Board (named port or place of shipment)
Penjual harus memuat barang di kapal dinominasikan oleh pembeli. Biaya dan risiko dibagi pada saat barang yang benar-benar berada di dalam kapal. penjual harus menjelaskan detail barang yang di ekspor. Istilah ini berlaku untuk transportasi jalur laut dan darat saja, tetapi tidak untuk transportasi laut multimodal dalam wadah (lihat Incoterms 2010, publikasi ICC 715). Term ini telah sangat disalahgunakan selama tiga dekade terakhir, sejak Incoterms 1980 menjelaskan bahwa FCA harus digunakan untuk pengiriman kontainer.

CFR – Cost and Freight (named port of destination)
Penjual harus membayar biaya dan pengangkutan untuk membawa barang ke pelabuhan tujuan. Namun, risiko ditransfer kepada pembeli setelah barang dimuat di kapal (aturan ini baru!). transportasi maritim saja dan Asuransi untuk barang TIDAK termasuk. Istilah ini sebelumnya dikenal sebagai CNF (C & F).

CIF – Cost, Insurance and Freight (named port of destination)
Persis sama dengan CFR kecuali bahwa penjual harus di samping pengadaan dan membayar asuransi. transportasi maritim saja.



disadur dari :
 http://www.skywaysms.com/inco-terms-2016/


Saturday, October 31, 2015

Istilah dalam Logistik atau Export Import

Dalam Artikel ini saya mencoba untuk berbagi beberapa istilah yang biasa digunakan dalam dunia logistik ataupun Export Import, artikel ini saya rangkum dari beberapa sumber online, ataupun offline.
Custom Clearance : adalah proses administrasi pengeluaran atau pengiriman barang dari wilayah muat ataupun bongkar yang berhubungan dengan Kepabeanan dan administrasi pemerintah.

Shipper : Shipper adalah Exportir atau si pengirim barang. Nama dan alamat lengkap Shipper harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO, PEB (Pemberitahuan Export Barang), PIB (Pemberitahuan Import Barang ketika Importir mengurus proses pengeluaran barang dari Pelabuhan)
 
Consignee / Cnee:  adalah Importir atau si Penerima barang. Nama dan alamat lengkap Consignee harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO, PEB (Pemberitahuan Export Barang), PIB (Pemberitahuan Import Barang ketika Importir mengurus proses pengeluaran barang dari Pelabuhan.  
Shipping Mark & Number : Shipping Marks & Number adalah jumlah carton dan tanda pengiriman yang tercantum di kemasan barang. Data Shipping Marks & Number ini tercantum didalam Packing List dan Bill Of Lading.
Description of Goods : Adalah perincian barang. Description of Goods ini terdapat didalam Packing List (Lengkap) dan Bill Of Lading. Hanya saja penulisan data Description of Goods pada Bill Of Lading lebih sederhana atau hanya garis besarnya saja. Misalnya, didalam Packing List tertulis 2 drum minyak tanah, 5 jerigen bensin, 10 kaleng oli bekas. Maka pada Bill Of Lading cukup ditulis 17 Packages (total kemasan) of minyak tanah, bensin and oli bekas.
G.W. : G.W. adalah singkatan dari Gross Weight. Yaitu berat kotor dari berat kemasan dan berat barang itu sendiri. Contoh berat barang itu 2 Kgs dan berat kemasannya 0.5 Kgs maka G.W. : 2.5 Kgs
N.W. : N.W. adalah singkatan dari Net Weight / berat bersih yaitu berat barang sebelum di kemas.
LCL : Less than Container Loaded yaitu jenis pengiriman barang tanpa menggunakan container dengan kata lain parsial. Jika kita menggunakan jenis pengiriman LCL, maka barang yang kita kirim itu ditujukan ke Gudang penumpukan dari shipping agent. Lalu dari pihak Gudang tersebut akan mengumpulkan barang2 kiriman LCL lain hingga memenuhi quota untuk di loading / di muat ke dalam container.
FCL : Full Container Loaded yaitu jenis pengiriman barang dengan menggunakan container. Walaupun quantity barang tersebut lebih pantas dengan mode LCL, tetapi jika shipper mengirimkan barangnya dengan menggunakan container maka jenis pengiriman ini disebut dengan FCL. Pengiriman barang dengan mode FCL maka kita harus mendatangkan container ke Gudang kita untuk process stuffing (proses pemuatan barang). Setelah stuffing selesai, container itu kita segel dan kita kirimkan ke Tempat Penumpukan Peti Kemas di pelabuhan.
CFS : Container Freight Station yaitu mode pengiriman dari Gudang LCL Negara asal sampai ke Gudang LCL Negara tujuan. CFS-CFS menandakan bahwa mode pengiriman barang tersebut dengan cara LCL.
CY : Container Yard yaitu mode pengiriman dari Tempat Penumpukan Peti Kemas Negara asal sampai ke Tempat Penumpukan Peti Kemas Negara tujuan. CY-CY menandakan mode pengiriman barang tersebut secara FCL.
Vessel : Kapal
Feeder Vessel : Kapal pengangkut container dengan kapasitas kecil yang mengangkut container dari pelabuhan muat menuju pelabuhan transit untuk di pindah ke Mother Vessel. Contoh : dari Tg. Priok menuju ke Singapore atau Hongkong….dsb
Mother Vessel : Kapal pengangkut dengan kapasitas besar yang mengangkut container dari pelabuhan transit menuju pelabuhan tujuan.Catatan : Jika pengiriman barang dari pelabuhan muat (misalnya : Tg. Priok, Jakarta ) menuju pelabuhan bongkar (misalnya : Busan, Korea) dengan menggunakan 1 Kapal saja maka tidak ada istilah Feeder Vessel dan Mother Vessel. Istilah Feeder Vessel dan Mother Vessel jika pengiriman barang dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar tersebut menggalami pergantian kapal. Misalnya : Pelabuhan muat Tg. Priok dan Pelabuhan bongkarnya Los Angeles, California. Sementara route pengiriman itu melalui Jakarta – Singapore menggunakan Kapal YM Glory dan Singapore – Los Angeles, CA mengunakan Kapal Hanjin Sao Paulo. Maka Feeder Vessel nya adalah YM Glory dan Mother Vesselnya adalah Hanjin Sao Paulo.
Voyage : Nomor Keberangkatan Kapal yang biasa disingkat dengan V. atau Voy.. Nomor keberangkatan harus selalu ada dibelakang nama Kapal. Contoh : YM Glory V. 23 artinya Nama Kapal YM Glory dengan nomor keberangkatan kapal (Voyage) 23.
ETD : Estimation Time of Departure adalah perkiraan waktu keberangkatan Kapal.
ETA : Estimation Time of Arrival adalah perkiraan waktu kedatangan Kapal
Bill Of Lading : atau biasa di singkat dengan B/L, arti sederhananya adalah Konosemen atau bukti pengiriman barang dan pengambilan barang. Form Bill Of Lading itu sendiri harus sudah mendapatkan legalitas dari dunia International sebagai alat / bukti pengiriman dan pengambilan barang export / import. Didalam Bill of Lading memuat data2 Shipper, Consignee, Notify Party, Vessel & Voy. No., Shipping Marks & Numbers, Description of Goods, GW, NW, Measurement, POD, POL, Destination.
AWB / Air Way Bill : sama dengan B/L namun AWB digunakan untuk angkutan via udara.
P.O.L : Port Of Loading = Pelabuhan Muat
P.O.D : Port Of Discharge = Pelabuhan Bongkar
Packing List : Daftar Rincian barang secara mendetail yang berisikan nama Shipper, Consignee, Notify Party, Nama Vessel & Voy, Dimensi Barang, Gross Weight dan Net Weight per Item barang maupun total keseluruhan, Jumlah barang.
Commercial Invoice : Daftar rincian barang mendetail yang berisikan nama Shipper, Consignee, Notify Party, Nama Vessel & Voy, Nilai Invoice per Item barang maupun total keseluruhan, Jumlah barang.
C.O.O / Certificate of Origin : Sertifikat Barang Asal, sebagai bukti keaslian barang dari negara asal yang  tertera pada B/L atau AWB


F.O.BFree On Board. Metode Pembayaran di pelabuhan bongkar baik itu Harga Barang (Nilai Commercial Invoice), Asuransi (Insurrance) dan Biaya Pengiriman (Freight).
FOB bisa disebut harga barang di Pelabuhan Asal (Exclude cost Freight & Insurance)
C.I.F Cost Insurrance & Freight. Metode Pembayaran di Pelabuhan Muat. Artinya, sebelum melakukan pengiriman barang tersebut sudah di lunasi oleh Consignee. Dan biaya asuransi maupun ongkos kirim sudah di bayar oleh Shipper di Pelabuhan Muat.
CIF lebih singkat dapat disebut harga barang di Pelabuhan tujuan.

D.D.P : Delivery Duty Paid , Metode Pembayaran yang sudah include CIF + Duty (Bea Masuk di negara tujuan).
DDP lebih singkat dapat disebut harga barang di gudang End User.

ketiga metode pembayaran diatas umum digunakan dalam Export & Import dan lazim disebut dalam Incoterm.
C.&.F : Cost & Freight. Metode Pembayaran yg tidak jauh berbeda dengan C.I.F, tetapi dalam kasus C & F, pihak Shipper tidak membayar asuransi / tidak mengasuransi kan barang tersebut.
Freight Prepaid : Pembayaran biaya angkutan yang sudah dibayarkan terlebih dahulu sebelum barang diangkut.
Freight Collect : Pembayaran biaya angkutan yang di bayarkan oleh Cnee (Penerima Barang) atau setelah barang sudah diterima.
Shipping Schedule : Jadwal Pengapalan. Jadwal ini diterbitkan oleh pihak Shipping Agent. Berisi mengenai ETD Vessel, ETA Vessel di pelabuhan bongkar, mode pengiriman (Cepat atau Lambat), Rute Kapal dan Pelabuhan Transit dan Nama Kapal Pengganti (Jika memang service pengiriman-nya harus menggunakan lebih dari 1 kapal).
Closing Time : Tenggat waktu normal yang di perbolehkan bagi cargo / barang yang masuk ke tempat penimbunan sementara seperti gudang CFS atau UTPK (Unit Tempat Penumpukan Peti Kemas).
Catatan : Tiap-tiap Shipping Schedule selalu mencantumkan tanggal dan waktu closing time. Dan jika cargo masuk ke tempat penimbunan sementara itu melewati dari waktu Closing Time yang telah ditetapkan maka pihak shipper akan dikenakan sanksi / denda.
P.E. : Persetujuan Export. Lembar Persetujuan Export ini bisa diperoleh dan di print sendiri oleh pihak Shipper / EMKL yang memiliki system online (E.D.I = Electronic Data Interchange) setelah pengajuan dokumen2 Export seperti Packing List, Commercial Invoice & PEB di setujui oleh pihak Bea dan Cukai.
P.E.B : Pemberitahuan Export Barang. Pengisian form Pemberitahuan Export Barang di ajukan dengan system online melalui system EDI. Jika pemeriksaan PEB di setujui, maka akan keluar P.E. Adapun data-data yang diisikan saat pengajuan pengisian form PEB adalah semua data-data yang ada di Packing List & Commercial Invoice.
 
EDI Sistem : Kehadiran Electronic Data Interchange (EDI) telah menjadi salah satu solusi untuk membuat efisienan dalam transaksi bisnis di Internet dan sekaligus memberikan jaminan keamanan dalam bertransaksi tersebut. EDI adalah pertukaran data komputer antar aplikasi melintasi batas-batas organisasi, sehingga intervensi manusia atau interpretasi atas data tersebut oleh manusia [RITCHIE 94] dapat ditekan seminimum mungkin. Akibatnya data dalam EDI tentunya harus dalam format terstruktur yang bisa dipahami oleh masing-masing komputer. Salah satu aplikasi penggunaan EDI dalam membantu sistem infrormasi seperti yang dilakukan oleh pemerintah.Dalam jangka panjang, usaha pemerintah untuk meningkatkan cadangan devisa harus didukung oleh kegiatan ekspor. Oleh karena itu, kegiatan ekspor harus digalakkan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pelabuhan, khususnya jasa pelayanan kepabeanan yang berada di pelabuhan, memegang peranan penting untuk menjamin kelancaran arus barang. Sebagai salah satu usaha untuk memperlancar arus barang di pelabuhan diterapkan sistem Electronic Data Interchange (EDI)
BC 1.1    : Dokumen yang memuat kedatangan kapal. Biasanya diajukan ke bea cukai 2-3 hari sebelum kedatangan kapal.(Inward cargo manifest submitted by shipping line to Customs which inform that there will be vessel arrival.) 
No BC 1.1 dan sub pos harus dicantumkan dalam pengajuan BC2.1, BC2.0, BC2.3 dalam sistem EDI
BC 1.2    : Dokumen Angkut Lanjut.
(Document made to release import cargo from one Customs area for bonded transport to the next custom area for process of clearance.)
BC 2.0    : Pemberitahuan Import Barang.
(Notice to the Customs of import cargo details .)
BC 2.1    : Pemberitahuan Import Barang Tertentu.
(Notice to the Customs of sea and air express import cargo such as arrival of courier items.)
dokument ini dapat di sebut juga P.I.B.K (Pemberitahuan Import Barang Khusus)
BC 2.3    : Dokumen Angkut Lanjut (dalam Kawasan Berikat).
(Bonded transport to a bonded storage, similar to BC1.2 but only for the companies   operating a bonded storage area.)
BC 3.0    : Pemberitahuan Export Barang.
( Notice to the Customs of export details.)
Bahandle : Cek fisik oleh kepabeanan untuk komoditas impor.
( Phisic check by Customs of imported commodity.)
BCF 1.5 : Dokumen yg digunakan utk pemindahan kargo untuk OB (over brengen)
(A document for processing cargo removed to OB.)
OB (Over brengen) : Pemindahan secara paksa terhadap barang impor karena gagal melakukan proses kepabeanan tepat waktu.
( Forcible removal of the import cargo for failing timely clearance.)
Pada praktek di lapangan OB dapat disebut Pindah Gudang, OB dapat terjadi karena regulasi dari Airline (jika Angkut via udara) atau Shipping Agent (Angkut Laut) , dimana Pesawat atau Kapal Laut unloading cargo pada gudang dan gudang tempat barang keluar berbeda. proses OB ini akan memakan cost yang lebih banyak di bandingkan barang yang tidak di OB.
DO (Delivery Order) : Surat yang diberikan oleh pihak Shipping agent, forwarder atau Gudang sebagai tanda bukti pengambilan barang, container kosong, dari gudang asal ke gudang tujuan.
Certificate of Insurance : Sertifikat Asuransi.
(Certificate of import cargo insurance.)
EDI         : Transmisi data terstruktur antara organisasi dengan cara elektronik.
( Electronic Data Interchange.)
FIAT       : Proses untuk ttd dokumen impor.
( Process for signing the release paper for cleared goods.)
LHP        : Laporan Hasil Pemeriksaan.
(Inspection report after the physic check.)
PENDOC: Penerimaan Dokumen.
( The custom department for receiving the import clearance applications.)
PFPD     : Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen.
(The custom department checking import clearance applications in Pendoc.)
PIB         : Pemberitahuan Impor Barang.
( Import cargo details including HS number and this works as the import duty calculation base.)
PNBP     : Penerimaan Negara Bukan Pajak.
(Non tax state levies.)
POSTEL : Pos & Telekomunikasi.
(Import permit for certain electronic goods.)
PPH       : Pajak Pertambahan Hasil.
(Withholding Tax.)
PPN       : Pajak Pertambahan Nilai.
( Value Added Tax.)
SKB        : Surat Keterangan Bebas (PPH / PPN).
(VAT and Withholding Tax exemption certificate.)
SPJK (M, H) : Surat Persetujuan Jalur Kuning (Merah , Hijau).
(Yellow (Red, Green) channel order.)
SPJM  : Surat Pemberitahuan Jalur Merah
jika respon ini keluar setelah submit PIB dalam system EDI maka kita akan menunggu jadwal untuk Pemeriksaan fisik dari pihak Bea Cukai.
SPJH (Surat Pemberitahuan Jalur Hijau) atau SPPB      : 
Surat Persetujuan Pengeluaran Barang.
(Cargo exit order.)
Barang dapat segera keluar dari wilayah Pabean (Airport atau Pelabuhan)
SSPCP : Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak.
(Duty payment order.)
TPS : Tempat Penimbunan Sementara.
(A temporary warehouse for import cargo.)
Warehouse AIRIN : Gudang sementara di Jakarta.
(Name of a temporarary warehouse in Jakarta.)
Surat Tugas : duty assignment for clearing personnel.
(duty assignment for clearing personnel.)
Surat Kuasa : power of attorney for handling the custom clearance. 

EMKL : Ekspedisi Muatan Kapal Laut

Notify Party : adalah pihak kedua setelah Consignee yang berhak untuk di beritahu tentang adanya suatu pengiriman dan penerimaan barang export / import. Dalam prakteknya, Nama dan Alamat Notify Party ini sama dengan nama dan Alamat Consignee. Tetapi ini semua tergantung dari perjanjian awal antara pihak Shipper dan Importeer. Nama dan alamat lengkap Notify Party harus tertulis jelas didalam dokumen2 seperti : Bill Of Lading, Packing List, Commercial Invoice, COO. Atau jika Notify Part sama dengan Consignee maka cukup ditulis SAME AS CONSIGNEE.